A Life Journal.

Friday, 4 May 2018

Living In A Patriarchy World

source: Newmatilda

Sebagai seorang pegawai di sebuah pabrik manufaktur yang mayoritas pegawainya adalah laki-laki, spesifiknya di bagian operation, yang jumlah perempuannya bisa diitung jari, banyak pengalaman yang menurut saya nggak mengenakkan.
FYI, di kantor saya itu semua karyawannya wajib pakai seragam. Sebuah kemeja, celana jeans hitam, dan sepatu safety buat yang kerjanya di bagian operation. Seragamnya ini menurut saya modest banget. No where near revealing lah.

Saya masuk perusahaan ini adalah lewat jalur Management Trainee, yang mana mengharuskan kita untuk rotasi ke semua departement untuk belajar business prosesnya. Awal-awal rotasi kelompok saya kebagian ke daerah operation dulu. Disini saya mulai merasa 'gini amat ya kerja di pabrik'. Perempuan di kelompok saya cuma saya sendirian. Satu batch (15 orang) perempuannya cuma 2, dan dia di kelompok lain.

Pengalaman pertama yang bikin malesin adalah ketika jalan dari gerbang depan ke office yang ada di dalem plant. Saya selalu dateng pagi, jadi bertepatan sama orang shift 3 pulang sehingga pas lagi jalan di jalur pejalan kaki selalu barengan tapi berlawanan arah. Sering banget (malah hampir selalu) setiap saya lewat mereka comment tentang saya dengan temannya maupun sendirian, cat-calling,  atau bahkan pernah dengan terang-terangan keluarin HP di depan saya untuk foto. WTF. But me, sebagai anak baru yang jalan sendirian bisa apa lah ya selain diem aja.

Saya sempet curhat ke temen saya A tentang semua ini lalu pendapat dia adalah "Lu ga usah peduliin nad, anggap aja ga ada, pakai headset aja pas jalan" yang mana menurut saya kayanya bukan solusi. Mereka akan tetap melakukan hal itu, cuma sayanya jadi ga denger aja.

Kejadian lainnya adalah ketika saya lagi On Job Training di salah satu bagian. Tiba-tiba ada bapak-bapak yang kasih wejangan ke kami berlima tentang how to behave. Bapak ini bentukannya adalah sungguh agamis (dari appearance) dan saya tau dia rajin ikut kajian dan aktif dalam kegiatan keagamaan maupun SPSI di pabrik saya. Lalu dia pada akhir bagian bilang ke saya "Mungkin nanti di pabrik ini bakal banyak yang panggil-panggilin atau godain Mbak Nadia tapi jangan kesel karena wajar lah ya lelaki kan punya nafsu dan syahwat di agama pun udah dikatakan demikian". Saya sampe sekarang masih ga ngerti atas jalan pikiran dia yang membenarkan perihal-perihal tersebut atas dasar dasar agama. Jadi boleh gitu godain sembarang orang hanya karena agama menyebutkan laki-laki punya nafsu dan syahwat? Ga mikirin perasaan sayanya banget bro? Da perempuan mah hanya sexual object untuk pemenuhan nafsu dan syahwat kalian-kalian. Ini sumpah saya kesel banget dan ternyata temen sekelompok saya juga ada yang kesel sama statement orang tersebut.

Kejadian berikutnya adalah ada salah satu bos yang seneng banget godain saya. Dengan konteks melecehkan sih kalau buat saya semacam "Nad udahlah lu ikut ke bali sama gua nanti gua bayarin semuanya". Gatau sih ya kalau buat orang, tapi buat saya itu cukup melecehkan. Dan kejadiannya sering sampe suatu waktu saya pernah ke WC lalu nangis saking keselnya. Saya merasa kok saya hina amat ya sampe dilecehkan mulu di kantor hanya karena saya perempuan. Saya cerita sama temen terdekat saya lalu dia memberi 'pandangan' kurang lebih gini intinya: "menurut gue sih itu ga sepenuhnya salah mereka,ada bagian itu salah lo juga karena lu juga ga menjaga penampilan lo. Ibaratnya ada rumah yang satu dibuka yang satu ditutup, pasti orang jadi lebih terundang untuk masuk ke yang terbuka kan?".  Emang saya ga berhijab, tapi menurut saya pakaian saya masih proper. Pakai seragam non ketat, celana non ketat, sepatu pakai sneaker. Segitunyakah sampai saya jadi layak untuk digodain sama orang-orang? Setelah kejadian itu saya memilih untuk ga cerita sama siapa-siapa lagi. Karena buat apa juga kan? Saya jadi korban, saya jadi yang salah juga. Udah sedih jadi korban, makin down karena jadi disalahin juga. Menurut saya pribadi sih, hal tersebut ga bisa jadi justifikasi untuk perbuatan melecehkan orang lain.


There are 11 reasons victims of sexual assault don’t report the crime:1.  They want to put the incident behind them.
2.  They want to forget this happened.
3.  They aren’t sure that what happened is a criminal assault.
4.  They are in shock.
5.  They feel shame.
6.  They fear not being believed.
7.  They fear being blamed.
8.  They fear the offender will retaliate.
9.  They fear being drug through the mud by the courts.
10. They fear that they will not receive justice.
11. They fear that their offender will not be held accountable.

source: www.ksal.com

Saya jadi ngerti banget kenapa dari 100 kasus pelecehan seksual, cuma 3 yang berani buka suara.

#curhatpost

Kindly share your thoughts !
Post a Comment

Custom Post Signature

Custom Post  Signature